Uisa

LDS, 2019

.

“Terima kasih banyak, Tuan Han Geon!”

Dengan wajah sumringah, seorang perempuan paruh baya menggendong cucunya keluar bilik berobat. Si bocah memang masih belum siuman, tetapi malam nanti, ia akan bugar sebugar-bugarnya, seolah tak pernah disambangi penyakit. Tentu saja; penyakit itu—sekalian darahnya—sudah diisap seorang pria seperempat abad yang tengah membersihkan noda merah di sudut bibir. Dia Han Geon, makhluk buas yang dulu ditakuti, kini hidup demi kesejahteraan para pasiennya biarpun harus digempur demam tinggi, kejang, dan muntah-muntah seusai ‘mengobati’.

Dia orang terakhir yang terjangkit Wabah Batu di Dongchun.

Manusia memelihara lintah untuk menyantap dan menawar penyakit dalam nadi mereka. Geon-lah lintah itu, pengisap darah dengan satu-satunya penangkal Wabah Batu dalam kelenjar liur dan taringnya. Nilainya di Dongchun sebatas itu saja, jadi andai penderita sampar sudah sembuh semua, apa yang tersisa darinya?

Monster. Bukan mustahil para pejabat akan menjebloskan Geon kembali ke penjara khusus untuk meredam keresahan masyarakat kendati ‘si buas’ sanggup mengendalikan nafsu makannya. Ia kemudian akan bertemu kawan-kawan lama: terali besi, cahaya Bulan yang terbingkai jendela selebar bata, dan dinginnya alas jerami.

Tidak. Aku tidak mau kembali ke sana!

Segumpal cairan naik ke kerongkongan Geon. Segera ia berlari ke halaman belakang, di mana sebuah tong besar berisi kompos ditanam untuk mengubur muntahan, kencing, dan kotorannya. Biang keladi Wabah Batu dari puluhan warga desa pinggiran Jeolla ini larut dalam dirinya, akan ikut terbuang ke alam melalui sisa-sisa pencernaannya. Gawat kalau sampai kuman-kuman itu dibawa air tanah dan menyebar kembali ke seantero desa, bukan?

Perut Geon seolah dirobek dari dalam selama mulutnya menumpahkan bercawan-cawan zat kental sewarna arang ke dalam tong. Peluh melembapkan kulit dan seluruh ototnya membatu saking tegangnya. Mereka yang terkena sampar umumnya datang dengan satu atau lebih gejala ini, lalu Geon akan berhati-hati menyesap darah kotor sekaligus ‘menyuntikkan’ penawar melalui taring dan lidahnya. Si sakit pingsan, anggota geraknya akan melampai pula, menandakan bahwa Geon sudah memasukkan cukup obat untuk mendapatkan upah.

Tong kayu ditutup. Geon terkulai lemas di atas rerumputan, mendidih akibat serangan demam harian.

Tolong aku, siapapun ….

Namun, tak ada yang terpanggil. Ironis; Geon kadang menemukan korban Wabah Batu bahkan sebelum mereka mencarinya. Berbaringlah ia, menunggu pulihnya tenaga seraya mengalihkan nyeri dengan meresapi keindahan ragam kelir pengisi lapang visi. Dahulu, saat sakit di penjara, yang bisa dipandanginya hanya langit-langit kelabu. Kalau sakitnya parah hingga mengigau, langit-langit itu akan tampak seolah-olah terus merendah buat mengimpit dan membunuhnya.

Setelah cukup kuat, Geon beranjak. Serangan nyeri akan menggila selepas kejang, makin menyebalkan bila suhu tubuhnya masih tinggi. Ada dua hal yang dapat meredakannya: kompres dan segulung padat ganja. Telapaknya bergetar halus sewaktu mencelupkan setangan ke sungai, memeras, dan menepuk-nepukkan kain setengah basah itu ke dahi serta lehernya. Lantas, ia terhuyung-huyung masuk dapur dan membuka cepuk perunggu di sisi tungku.

Tinggal satu, ya?

Menggunakan bara dupa yang dipakainya bersembahyang memuja dewi penyembuhan Mago, Geon menyalakan lintingan yang dijepit ibu jari dan telunjuk. Sebelum bergantung padanya, warga Dongchun mengolah ganja sebagai penangkal Wabah Batu, tetapi mereka senantiasa mengeluhkan kekambuhan. Para tabib kemudian mempelajari bahwa ganja cuma meredakan, tidak membunuh bibit kuman, harus cepat digantikan dengan yang lebih mujarab. Kisah seorang bocah pemakan darah manusia yang ditahan sejak sepuluh tahun silam menarik perhatian mereka—dan demikianlah Geon akhirnya dibebaskan demi kemaslahatan bersama.

Bersila di sisi persembahyangan, Geon membiarkan asap hasil pembakaran daun ganja meringankan denyut dalam kepalanya. Begitu simpul-simpul penjerat otaknya terurai, secara acak terputarlah kenangan-kenangan yang sebagian besarnya lebih baik dilupakan. Yang pertama kali terekam dalam benaknya selama hidup adalah kegembiraan bermain dengan sesama tikus jalanan yatim piatu. Selanjutnya, Geon kecil merasa lapar. Ia makan nasi sisa berlauk ikan asin yang dicuri beramai-ramai ketika masih dijemur. Tidak kenyang. Perutnya yang cekung ia ganjal dengan air sungai berteguk-teguk. Masih tidak kenyang. Salah seorang teman menyodorkan separuh lauknya pada Geon, tetapi bukan itu rupanya yang menggugah selera si bocah kumal.

Tahu-tahu, Geon merangkul badan yang sudah beku, kering, dan koyak di leher. Dahaganya telah terpuaskan, tetapi mengapa temannya tidak bangun? Ia tersedu, bertanya pada para pejalan mengapa sahabatnya terus terlelap, padahal noda darah di mulut Geon baru terbasuh sedikit oleh hujan rubah. Atas dasar rasa terancam, para saksi peristiwa ini mengurungnya tanpa janji kebebasan dan si mungil yang bingung berpegang pada asa sepucuk lilin: bahwa ia akan kembali terguyur sinar surya dan memenuhi paru-parunya dengan udara sejuk. Bahwa sahabat yang tak sengaja dimakannya akan ditukar seseorang yang sama tulus, suatu saat nanti. Bahwa orang-orang akan mengizinkannya berbaur di antara mereka—meskipun mereka makan kimchi[1] dan ia minum darah ternak.

Puntung cerutu Geon jatuhkan ke asbak. Demamnya membandel, begitu pula rasa sakitnya. Masuk akal; semula butuh selinting, ia kini mesti menghabiskan lima linting ganja agar keluhannya teratasi. Apa boleh buat? Para tabib mengatakan kelenjar liurnya yang memuat penyembuh semakin kering bila semakin sering dipakai. Mengetahui kemungkinan tak semua penderita sampar dapat tertolong, Geon ketakutan setengah mati dan memutuskan untuk madat saja supaya zat penyembuhnya awet.

Aku harus ke padang.

Usai mengantongi cepuk perunggunya, Geon merapatkan jubah. Tertatih ia hampiri kuda tua pemberian seorang pasiennya dulu. Sulit benar naik ke pelana; kaki Geon punya kehendak sendiri atau bagaimana?

Tatkala berhasil menduduki punggung kuda, keringat si lelaki tirus telah membentuk bulir-bulir sebiji jagung, mengaliri pelipis. Tali kekang dihela lemah dan melajulah kuda Geon selagi pemiliknya terengah-engah.

Sakit ….

***

Keinginan yang diwujudkan melalui perjuangan merupakan inti keberadaan manusia. Dewa akan mengabulkan permintaan-permintaan itu di dunia setelah menimbang besarnya upaya masing-masing orang. Makanya, Mago heran ketika seorang pria bertulang pipi menonjol berkunjung seorang diri ke padang ganja, menyalahi usaha kerasnya sepanjang hayat demi memperoleh kawan, bersamaan dengan mendaratnya Jeoseung Saja.

“Mau apa kau?!” bentak Mago.

“Mencabut nyawa, lah,” jawab Jeoseung Saja abai.

“Cuma ada satu manusia di sini dan dia tidak akan mati.” Sang dewi penyembuhan melirik Geon sekilas. “Tidak sendirian. Dia sudah berusaha keras untuk membuat dirinya dicintai banyak orang. Mengapa Hwanung tidak mengirimkan satu manusia pun untuk menemaninya menjemput ajal?”

“Yah, barangkali usahanya tidak cukup besar menurut Hwanung. Apa pedulimu? Dia hanya manusia.”

Jeoseung Saja benar. Geon insan biasa, bukan titisan dewa, tak ada tempat istimewa baginya di Nirwana. Meski demikian, kali pertama Geon menggulung ganja di kebun yang Mago ciptakan, tatapan sendunya menuturkan banyak cerita pahit nan mengusik. Pria malang itu menghabiskan nyaris separuh usia dalam kesepian dan mengharapkan pertemanan baru untuk menggusur memori peninggalan seorang sahabat masa kecil. Wabah Batu membukakan peluang baginya membuat mimpi jadi nyata, maka ia senantiasa bersikap menyenangkan: menghaluskan ujaran, mengalihkan para pasiennya dari pedih gigitan dengan usapan melingkar di punggung tangan, dan tidak ribut masalah bayaran. Tak diacuhkannya napas yang sesak bila terlalu banyak menyesap darah berkuman, atau betapa menderita ia gara-gara berpindahnya penyakit puluhan orang ke nadinya. Padang Mago menyelamatkannya; itulah alasannya mendirikan altar untuk ‘si gadis ganja’. Orang lain? Penghormatan mereka pada Geon sesungguhnya serendah tumpukan uang dan buah tangan di sudut bilik berobat.

Baru memetik selembar daun berjari tujuh, Geon tumbang. Tubuhnya membatu lagi dan netranya kehilangan fokus. Beberapa kali terdengar bunyi tahak, tetapi tidak termuntahkan apa-apa. Mago merangsek maju, hendak menggunakan kekuatannya untuk menolong Geon andai Jeoseung Saja tidak mencegah.

“Dia sedang meregang nyawa.” Kabut putih tertarik dari raga Geon ke telapak tangan kanan Jeoseung Saja. “Biarkan.”

“Apa maksudmu? Dia orang baik, mengapa harus mati tersiksa?!” Pelupuk mata Mago tergenangi tangis. “Hentikan ini! Beri aku waktu untuk meredakan nyerinya!”

“Kau sudah melakukan itu selama ia menghirup ganja yang merupakan bagian dari dirimu. Jangan mengganggu, Mago. Hwanung akan menghukummu jika mencampuri tugasku.”

Tangan Mago mengepal di sisi paha. Nama Hwanung—raja para dewa—senantiasa menciutkan nyali, tetapi menurutnya, Hwanung tak menghargai kerja keras Geon untuk memperoleh secuil kasih. Keputusannya curang kali ini dan Mago hadir untuk meluruskan vonis tersebut.

Arwah yang Jeosung Saja genggam hampir mencapai bentuk bulat sempurna. Di ambang ajal, beberapa manusia akan mampu melihat para penghuni Nirwana. Geon termasuk; senyumnya perlahan terkembang ketika selaput pelanginya tertambat pada milik Mago, memancarkan kemurnian dan asa yang sekarat. Berhubung tiga perempat nyawanya telah tercabut, suaranya lenyap, tetapi bibirnya masih sanggup mengeja lima suku kata yang serta-merta meleburkan perasaan Mago.

Terima kasih.

***

“Cukup!!!”

Daun-daun ganja beterbangan, yang masih mengakar dilahap si jago merah. Jeosung Saja berdecih, tidak mengantisipasi serangan Mago yang menyasar roh Geon. Bola berpendar itu terebut darinya dan terlempar kembali ke dalam dada si pria.

“Mago, dia harus mati!”

Namun, sang dewi telanjur menulikan diri. Ia dekap erat Geon yang termegap sebelum menggigit pembuluh leher laki-laki itu. Geon terbelalak, lantas mengerang menahan nyeri yang ajaibnya cepat musnah. Darahnya berdesir sebagaimana biasa setelah menghirup cerutu ganja, lama-lama terasa nyaman. Kantuk menggelayuti kelopak matanya sehingga ia terpaksa menyandarkan kepala ke bahu Mago.

Hangat. Nyata. Bukan sekadar bunga tidur yang mematahkan kesendirian. Kalbu Geon kontan disergap keharuan; tanpa sadar, ia memeluk balik sang penyelamat.

“Yang Mulia Dewi Mago, saya—“

“Aku tahu.” Mago membopong Geon menapaki langit. Di bawah kaki mereka, Jeoseung Saja terkepung lingkaran api yang melahap ranting-ranting ganja. Sang dewa maut memandang nyalang dua sosok yang baru saja mengudara, entah mengapa tak menghentikan pelanggaran ini biarpun mampu.

“Bila Hwanung tidak mengganjarmu dengan layak atas kebajikanmu, Han Geon,” bisik Mago menenangkan, “maka izinkan aku.”

***

Uisa: [Korea] kata benda 1. dokter, 2. niatan, 3. kelanjutan, 4. lintah.

TAMAT


[1] kimchi: makanan berbahan dasar sawi atau lobak yang digarami dan difermentasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s