Renhua

LDS, 2019

NCT Renjun x Everglow Yiren

.

Salju di perbatasan Baihu hari ini dileburkan tetes-tetes darah yang lambat laun menganak sungai. Bersama cairan pekat anyir itu, mengalir pula rintih putus asa dan pahitnya kekecewaan. Seluruhnya berasal dari satu raga yang berbalur luka.

“Sedikit lagi ….”

Memanfaatkan sisa tenaga dan lengan-lengan yang lemah, Huang Renjun menyeret tubuhnya. Jejak merah panjang mengenaskan rapat mengekori, tanda perjuangannya menuju istana Kaisar Baihu. Sayang, belum seberapa jauh berpindah,mendadak ia terbatuk. Sejumlah besar darah tertumpah lagi dari mulut dan ia pun tumbang. Yang sanggup dilakukannya sekarang hanya memalingkan wajah ke samping untuk menggapai beberapa penggal napas.

“Putri Yiren ….”

musim semi yang kujanjikan padamu dicuri orang. Bagaimana ini?

Renjun kelelahan menggigil. Percuma, badannya tak juga hangat akibat kehabisan darah. Matanya masih terbuka, tetapi kehilangan fokus, dan bernapas seolah sia-sia saja.

Aku akan mati …

“Jangan seenaknya memutuskan mati atau tidak, dong.”

Sepasang kaki telanjang samar memasuki penglihatan Renjun, membarengi wangi menenangkan yang asing, juga cemoohan menusuk dari seorang perempuan.

“Kasihan. Gara-gara si manja Wang Yiren itu, nyawamu berada di ujung tanduk.”

Putri Yiren tidak manja!

“Kalau memang tidak,” dia bisa dengar isi hatiku?, batin Renjun, “mengapa mengajukan tantangan sesulit membawakan musim semi untuk mengakhiri sayembara memperebutkannya? Tiga kandidat yang tersisa bukan dewa. Mana mungkin menghapus kutukan musim dingin abadi ini, apalagi kau yang pelayan biasa?”

Namun, siapa orang Baihu yang tidak ingin mencicipi musim semi? Renjun masih ingat betapa girangnya dia menyaksikan semarak warna tetumbuhan di negeri tetangga, dulu saat pertama kali dikirim Kaisar melayani para diplomat. Kesempatan bekerja-setengah-melancong itu berkali-kali ia peroleh berkat sikap cekatannya, maka jangankan musim semi, musim panas dan gugur pun pernah ia nikmati. Ironis bagaimana Wang Yiren, kawan baiknya yang merupakan putri bungsu Kaisar dari Permaisuri, malah terkurung di paviliun istana, takut meminta ini-itu pada sang ayah karena merasa tak bernilai di sisi orang tuanya. Tentu saja bagi Renjun, Yiren bukan sekadar penghias singgasana, melainkan gadis delapan belas tahun yang punya banyak asa, masing-masingnya layak diutarakan dan dikabulkan.

“Aku jadi ingat dua lawanmu, bocah-bocah keturunan dewa itu.” Si perempuan misterius terkekeh. “Begitu Yiren bilang ingin dibawakan musim semi, mereka langsung sesumbar. Anak dewi api bersumpah akan melelehkan seluruh salju di Baihu, sedangkan anak dewi matahari bertekad menyeret ibunya ke langit Baihu untuk menghangatkan udara. Mereka kira semudah itu nirwana bekerja sama? Harusnya mereka belajar sejarah dulu.”

Konon, kemakmuran Baihu membuat kaisar pertamanya pongah, mengatakan bahwa nirwana sekalipun tak akan sanggup menandingi kesuburan negerinya. Kutukan seketika ditimpakan. Sejak itu, salju turun tiada henti, menimbulkan kesengsaraan tak tertanggulangi bertahun-tahun lamanya. Kecongkakan bakal menjerumuskan, maka mengabaikan gembar-gembor kandidat lain, Renjun memutar otak. Yiren sudah menitip musim semi berkali-kali setiap ia bepergian, jadi bermacam-macam pula potongan musim tersebut yang Renjun persembahkan, ditidurkan dalam batu es. Masalahnya, batu es meleleh jika dibawa Yiren berdiang.

“Akhirnya, kau menggunakan getah pohon. Aku suka sekali bola getah yang kaugunakan untuk mengawetkan peoni tadi, tetapi sungguh nahas! Dua pangeran busuk yang gagal membujuk nirwana untuk membawa musim semi mencurinya, lalu mencoba membunuhmu!”

Degup jantung Renjun menggila.

“Bagaimana kalau saya bawakan bunga saja? Bunga itu bisa dibekukan dalam batu es supaya tidak cepat layu.”

“Benarkah? Bisa kau bekukan seikat? Aku ingin ada bunga-bunga yang menghias pesta pernikahanku nanti.”

“Tentu. Dikelilingi bunga-bunga itu, Putri akan menjadi pengantin paling cantik di Baihu!”

“Apa kamu barusan … merayuku?”

“T-Tidak! Ampuni kelancangan saya—“

“Jangan minta maaf. Aku memang ingin jadi pengantin yang cantik—dan bahagia. Doakanlah kelak aku dipinang seseorang yang tulus mencintaiku, bukan karena takhta Ayahanda.”

Sebelum Kaisar memutuskan ‘menghadiahkan’ sang putri melalui sayembara, Renjun melarang diri sendiri mencintai Yiren disebabkan darah jelatanya. Namun, setelah mengikuti kompetisi unik Kaisar di mana semua lelaki boleh ambil bagian, ia jadi ragu. Dari manakah luapan semangat yang membawanya ke tahap akhir sayembara, yang mengubahnya dari pelayan kutu buku menjadi ahli pedang sekaligus seorang cendekia, andai bukan dari bayang-bayang keriangan Yiren? Apakah namanya perasaan lembut yang menguatkan itu jika bukan—

“Akh …. A …. Uhuk!”

Kendati hendak menyampaikan satu pesan pada Yiren, dada Renjun nyatanya terlalu sakit dan suaranya hilang ditelan desau angin.

Beribu ampun, saya tak dapat memenuhi permintaan terakhir Putri, tetapi saya benar-benar mencintai Anda ….

Kemudian, tibalah Renjun di penghujung hidup. Sepasang manik hitamnya hampa memantulkansosok jelita salah satu penghuni nirwana yang punggungnya ditumbuhi ranting-ranting berbunga. Tersenyum, didekapnya Renjun dan dibersihkannya wajah sarat duka itu dari darah serta tangis.

“Nak, kau baru saja memekarkan setangkai kasih di tengah salju.”

***

Yiren menutup mulut ketakutan. Tantangannya dijawab oleh dua kandidat terakhir dengan bola musim semi berlumur darah, masih diperdebatkan siapa pemiliknya. Bunga peoni yang terbalut getah kehilangan pesona; aslinya memang merah ataukah ternoda darah?

“Putri!” Para dayang sigap menangkap Yiren yang nyaris ambruk di atas lututnya. Mata si gadis berlinang-linang. Renjun sempat menyinggung soal getah tanaman untuk mengawetkan bunga jauh sebelum Kaisar merencanakan sayembara, maka kecil kemungkinan salah satu dari dua pangeran di hadapannya yang menciptakan miniatur musim semi itu.

“Di mana Huang Renjun?”

Isak lirih Yiren mengalihkan para pangeran yang sedang berselisih.

“Mengapa tidak menjawab?” Nada Yiren meninggi. “DI MANA HUANG RENJUN, MUSIM SEMIKU?!”

“Putri Yiren, jangan khawatir. Saya selalu bersama Anda.”

Derak gerbang istana menyusul sebuah bisikan menenangkan, terembus bersama aroma bunga tak bernama. Mengabaikan bola peoni dan calon-calon suaminya yang saling melempar dusta, Yiren berlari meninggalkan balairung. Debar rindu bertalu-talu dalam dada, seolah menandakan bahwa seseorang yang ditunggu telah hadir untuk melipurnya. Benar saja. Si pemuda berdiri di ambang gerbang, mengenakan jubah putih yang berkibar megah ketika ia melangkah. Pada pelipis kirinya, tergurat rajah emas sebagai simbol anugerah dewa, bentuknya menyerupai bunga-bunga merah rona pipi yang bersemi mengitari istana.

“Renjun!” Usai sejenak tercengang,Yiren menghambur ke arah sang kandidat ketiga. Renjun yang terkejut begitu saja merangkul tuan putrinya. Terasa canggung, anehnya lama-kelamaan membangkitkan haru.

“Saya kembali.” Ibu jari Renjun menyusut air mata Yiren.

“Terima kasih telah datang tepat waktu dan membawakanku,” Yiren menghela napas takjub, “musim semi ini. Dari mana mereka berasal?”

“Kekuatan dewata, Putri. Nirwana menyelamatkan saya dan memekarkan hutan bunga tak bernama ini dari cucuran darah.”

“Darah?!” pekik Yiren. Ia tak perlu penjelasan lengkap; tatapan nanar Renjun pada kedua pencuri bola getahnya sudah cukup menerangkan. Amarah melahap hati Yiren, tetapi lantaran terbiasa bersikap lembut, ujungnya cuma sedu-sedan kesal yang ia loloskan selagi lengannya mengerat mengelilingi pinggang Renjun.

“Kejam ….”

Ya, mereka kejam, Renjun membelai pelan punggung gadis yang dikasihinya, bukan karena menyakiti saya, tetapi karena menyakiti Anda, Putri.

Kaisar beranjak dari singgasananya, mendekati gerbang. Renjun pun melepaskan pelukannya untuk membungkuk takzim.

“Huang Renjun, meskipun bukan darah biru maupun titisan dewa, kau membuktikan bahwa kejujuran akan selalu menemukan jalan.” Telapak agung ayah Yiren mendarat di ubun-ubun menantu barunya, berdamping restu. “Kaulah pemenang sayembara ini. Mulai sekarang, kau menjadi suami dari putriku Yiren,” Kaisar melirik guguran mahkota bunga di awang-awang, “sekaligus seorang pangeran Baihu. Di istanaku, nama barumu adalah Pangeran Renhua.”

Renjun membelalak. Tujuannya memenangkan sayembara ini semata untuk melindungi sahabat karibnya, tetapi siapa sangka, ia juga memperoleh identitas terhormat yang diumumkan langsung oleh Kaisar di muka orang banyak? Kegembiraannya merambatkan ekstasi ke sekujur badan. Kewalahan, ia bersujud sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

“Cukup.” Kaisar tertawa geli. Bagaimana seseorang yang memiliki kekuatan nirwana masih merasa tersanjung akibat penobatan ‘sederhana’ sebagai seorang pangeran? Pada titik ini, Renjun boleh saja meminta tempat khusus di samping dewa-dewi …

“Berdiri, Anakku, dan tatap masa depanmu.”

… tetapi Yiren telanjur memahat nama di hatinya. Sesempurna apa jua kerajaan di balik awan, satu-satunya sumber desir darah Renjun berwujud seorang dara ayu, dengan rambut berkilau yang ditiup jahil oleh sepoi angin merah rona pipi. Diiringi hujan mahkota renhua—‘bunga kebajikan’, demikian Kaisar menamai—Renjun berlutut, meraih jemari Yiren, dan mengecupnya lembut.

“R-Renjun, apa yang k-kau—“

“Putri, layaknya renhua yang mekar di tengah musim dingin, saya bersumpah untuk menjaga kasih antara kita yang berkembang dari harapan. Bersediakah Putri memegang janji ini seperti saya memegangnya?”

Dari kejauhan, seorang perempuan dengan ranting bunga merah di punggungnya memerhatikan bagaimana paras Yiren berbinar saat mengangguk, membalas ikrar suci suaminya. Senyum sang dewi terulas, lantas ia menjentikkan jari—dan ratusan mahkota renhua  menari, mengharumkan kisah asmara yang baru saja dimulai. []

5 thoughts on “Renhua

  1. Rijiyo says:

    Ya allah ini sweeeeeet bgt endingnya meskipun aku penumpang kapal jeno-yiren. Tapi aku ada feel yiren sama renhua bcs mereka kiyowo ;_; Ini yiren udah kayak elsa aja ya bau² es wkwkwk tapi cocok kok apalagi terperangkap di kastil itu juga ngingetin aku sama tangled

    Aku gak nemu typo sih (MBAK LIANA KAPAN PERNAH TYPO??!!!) tapi ada kata yg gandeng

    => memantulkansosok

    Itu mbak. Ada di paragraf terakhir sebelum ” *** ”

    Keep writing mbak ❤

    Like

    • LDS says:

      eh iyaaaa itu spasinya luput. aku gatau knp sih tapi emg dia tetiba ngilangin spasinya sendiri di bbrp tempat waktu aku donlot dari email. udh diedit tapi masih ada yg luput hehe. makasih udh nunjukin yah. makasih sdh baca! 🤗

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s