Metamorfosis

LDS, 2020

.

Vega itu manusia atau peri dongeng, sih? Cantik sekali!” 

Semula berasal dari seorang tamu sajabisikan ini merembet cepat berhubung banyak yang setuju. Rigel menyesap koktail puas; pujian atas penampilan Vega hari ini sedikit banyak dialamatkan padanya juga. Sayap pada punggung perempuan itu, siapa yang menciptakan kalau bukan dirinya 

Namun, tanpa karya Rigel pun, Vega sudah terlihat spektakuler. Rambut legam sebahunya disanggul anggun, mengekspos leher jenjang berkalung akuamarin. Ia mengenakan gaun biru langit yang gemerlap ditimpa matahariSebuket anggrek nila berpita putih digenggamnyasenuansa dengan taplak dan balon dekorasi, lalu punggungnya …. Ya, setiap menatap punggung itu, terlemparlah Rigel pada pertemuan ganjil mereka seminggu lalu. Saat itu, si calon pengantin mengantarkan undangan untuk sang pelukis tubuh sekaligus minta ditumbuhkan sepasang sayap kupu-kupu Morpho biru. 

Aku akan pakai gaun backless, jadi tutupilah parut-parut punggungku dengan cat. Please? 

Kotoran. Blak-blakan sekali perempuan ini, batin Rigel. Raut riang Vega telak mengalahkannya dan seperti orang bodoh, si pria mengangguk. Berakhirlah dia di rumah masa kecil Vega pukul enam pagi pada hari resepsi. 

“Sebelah sini, Riggs. 

Sang seniman menghilang bersama kliennya ke balik sekat yang membelah kamar riasVega meloloskan satu demi satu kancing boyfriend shirt-nyaBegitu si kemeja tanggal, jantung Rigel berdebar gelisah. Punggung Vega adalah prasasti mimpi buruk. Di atas kulit seputih gading, malang melintang bekas luka memanjang, menuturkan derita si perempuan sepanjang pernikahan pertamanyaPengukir relief-relief horor itu tengah mengaduk catbersiap melapiskan seni ke atas jejak kejahatannya yang silam. 

“Apa Sirius tahu soal idemu melukis tubuh?” 

“Itu ide briliannya.” Vega menelungkup dan Rigel terenyak. “Dia tahu bekas lukaku tak akan hilang, tetapi sehari saja, ia ingin jejakmu terhapus.  

“Mengapa Sirius tidak sekalian menghajarku meski tahu apa yang pernah kulakukan pada kekasihnya?” gumam Rigel muram ketika menyemprotkan setting spray. “Kalau jadi dia, aku akan menghajar diriku sendiri.” 

Kekerasan bukan jawaban. Ingat saja punggungku dan usahamu hari ini untuk menutupi bekas-bekas luka itu. Dengan sendirinya,” lirik Vega, “sesal akan mencegahmu bersikap temperamental.” 

Tebakan Rigel, Vega masih belum pulih benar dari trauma psikisnya kendati senantiasa memasang raut ramah. Wajar. Pria yang ia percaya untuk mengarungi hidup bersama selamanya malah memberi pengalaman patah hati yang nyeri lahir-batin. Mustahil ia akan sembuh secepat itu. 

“Kau memang pantas memperoleh yang terbaik.” Suara Rigel tercekat tatkala menyapukan kuas, menyembunyikan parut Vega satu persatu. “Selamat sudah lolos dari pecundang sepertiku.” 

Bukan. Kau hanya sedang banyak masalah, butuh pelampiasan, dan aku tak cukup tangguh untuk mengangkatmu dari jurang itu,” geleng Vega. “Maaf meninggalkanmu, Riggs.” 

Kau sama sekali tidak bersalah!” Rigel lantas mendeham malu; ia kedengaran kelewat menggebu barusan. “Semoga kau selalu bahagia dengan Sirius kelak.” 

Vega menyenyumi cermin, tetapi anak matanya lurus menentang iris cokelat bayangan Rigel. Detik itu, Rigel sungguh tak habis pikir; setelah disakiti sedemikian rupa, bagaimana Vega tetap mendoakan kebaikan buatnya? 

Kau jugaSemoga wanita baru yang lebih kuat segera hadir di sisimu.” 

Segumpal besar teriakan menghentikan laju kereta kenangan dalam benak Rigel. Rupanya, kerumunan pendamping pengantin wanita bersiap menyambut buket anggrek dari tangan Vega. Tradisi konyol ini melipur lara Rigelmenariknya mendekat hingga nyaris berdempetan. Sejemang, perhatiannya oleng. 

Tuhan, betapa ingin Rigel memeluk pemilik sayap Morpho yang kini membelakanginya.  

Buket dilempar tanpa aba-abamembentuk parabola yang berujung pada Rigel alih-alih salah satu pendamping pengantin. Ketika lengannya terulur, tubuhnya menjelma tiang enam kaki lebih; daripada ditangkap, buket bunga itu lebih tepat dikatakan tersangkut ke tangannya. 

Para pendamping berseru kecewa. Tamu undangan lain bertepuk tangan heboh. Rigel melambai-lambaikan buket bunga, menertawakan mereka yang gagal memperolehnya. 

“Aku akan menikah tahun depan! 

Dengan siapa, tak jadi soal. Jika Vega dapat terbang menyongsong kebahagiaannya sendiri, bukankah mudah buat Rigel bermetamorfosis dan menjemput masa depannya pula? 

TAMAT


.

.

versi original dari ficletku, ‘Relief Biru Waktu’, yang diterbitkan dalam antologi PPTE oleh Ellunar Publisher.

3 thoughts on “Metamorfosis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s