Uisa

LDS, 2019

.

“Terima kasih banyak, Tuan Han Geon!”

Dengan wajah sumringah, seorang perempuan paruh baya menggendong cucunya keluar bilik berobat. Si bocah memang masih belum siuman, tetapi malam nanti, ia akan bugar sebugar-bugarnya, seolah tak pernah disambangi penyakit. Tentu saja; penyakit itu—sekalian darahnya—sudah diisap seorang pria seperempat abad yang tengah membersihkan noda merah di sudut bibir. Dia Han Geon, makhluk buas yang dulu ditakuti, kini hidup demi kesejahteraan para pasiennya biarpun harus digempur demam tinggi, kejang, dan muntah-muntah seusai ‘mengobati’.

Dia orang terakhir yang terjangkit Wabah Batu di Dongchun. Continue reading