Genres

Untuk menghindari ambiguitas dan ketersesatan dalam memahami genre, berikut adalah ensiklopedia singkat mengenai genre yang sering ditulis versi Writers’ Secrets. Halaman ini adalah halaman pembelajaran, jika ada definisi/penjelasan yang kurang tepat, silakan mengoreksi melalui kolom komentar di bawah.

Action

Genre dimana tokoh utamanya memiliki misi yang menjadi inti cerita, dan untuk menyelesaikan misi tersebut dia/mereka harus melewati berbagai rintangan yang menuntut untuk bergerak secara fisik (perkelahian, usaha melarikan diri, baku tembak, senjata api, ledakan, balapan, combat, dsb), baik secara individu maupun organisasi. Tokoh utama juga sering berada di situasi pelik dan berbahaya yang mengharuskannya untuk mengambil keputusan secara cepat dan penuh risiko.

Note: genre action bertempo cepat dengan deskripsi yang cenderung visual dibanding emosional.

Beberapa subgenre dari action, antara lain:

  • Espionage/spy fiction: adalah cerita action yang berpusat pada agen mata-mata atau personil militer yang dikirim untuk tugas rahasia. Secara umum, tokoh utama akan dibekali dengan gadget canggih yang berguna untuk menyelesaikan tugasnya. Tokoh utama juga mendapat pelatihan/memiliki keahlian khusus seperti kemampuan hacking/programming, menembak jarak jauh, dsb.
  • Girls with gun: adalah cerita action dengan karakter wanita (satu atau lebih) sebagai tokoh utama.
  • Heroic bloodsheed: adalah cerita action yang berpusat pada tema-tema heroik, seperti persaudaraan, nasionalisme, kesetiaan atau kewajiban.
  • Military/war fiction: adalah cerita action yang berkisah seputar perang atau pertempuran yang diceritakan selama kejadian berlangsung.
  • Wuxia: adalah cerita action dengan gerakan fisik berupa keahlian bela diri.

Adult Content

Peringatan untuk pembaca bahwa cerita tersebut mengandung unsur dewasa (kekerasan, seksual, alkohol, obat-obatan, dsb), dan tidak sesuai untuk pembaca di bawah batas umur yang disarankan.

Note: adult content bukan termasuk genre, hanya sebatas peringatan (warning).

Beberapa genre yang membutuhkan adult content, antara lain:

  • Erotic fiction: adalah genre cerita yang berkisah tentang/menjurus adegan seksual, bertujuan untuk membangkitkan atau menciptakan fantasi seksual bagi pembacanya. Dikenal juga dengan istilah internet smut. Berbeda dengan porn, smut memiliki plot yang jelas dan masih menceritakan adegan-adegan non-seksual.
  • Gore: adalah genre cerita yang menggambarkan adegan kekerasan (pembunuhan, penyiksaan, pembantaian, mutilasi, atau deskripsi mendetail tempat kejadian perkara) secara eksplisit dan di luar batas manusiawi. Tujuan penulisan gore adalah untuk memperkaya visual yang dapat memunculkan efek realistis.

Adventure

Genre yang menceritakan perjalanan tokoh utamanya menjelajahi tempat-tempat baru untuk tujuan tertentu. Tokoh utama mungkin menghadapi hal-hal bahaya yang tidak pernah dia/mereka alami sebelumnya seperti bertemu binatang buas, atau konflik yang lebih sederhana seperti tersesat di antah-berantah.

Note: serupa dengan action, adventure melibatkan adegan fisik. Namun adventure akan lebih menjelaskan sisi eksplorasi dibanding sisi genting di genre action.

Beberapa subgenre dari adventure, antara lain:

  • Epic: adalah genre adventure yang terbuka (mengandung genre lain, biasanya fantasy atau science fiction) yang membentuk sebuah cerita panjang, umumnya trilogi atau lebih, memiliki semesta yang luas dan dengan rentang waktu yang dipakai dalam cerita bisa mencapai bertahun-tahun.

Comedy

Genre yang menceritakan tentang hal-hal lucu, komedik dan menggelitik, bertujuan untuk menghibur dan memancing tawa. Comedy juga sering digunakan sebagai kritik sosial yang disampaikan dengan ringan dan diselingi selipan gurau.

Note: comedy adalah genre yang luas dan dalam pengerjaannya sering bercampur dengan genre lain.

Beberapa subgenre dari comedy, antara lain:

  • Black/dark comedy: adalah cerita comedy yang diangkat dari subyek yang umumnya bersifat tabu/tragis, seperti kematian, perang, penyakit, pembunuhan, dsb, namun dikemas dengan komedik sehingga mengeliminasi unsur ketabuannya.
  • Parody: adalah cerita comedy yang menyatirkan/memparodikan tokoh (fiksi maupun nyata), genre, atau karya seni lainnya. Dalam parodi, unsur-unsur orisinalitas dari subyek masih dipertahankan namun dicampur dengan sindiran/sarkasme dengan kemasan yang ringan dan tanpa tujuan menjelakkan nilai dari subyek tersebut.
  • Slapstick: adalah cerita comedy yang menonjolkan gerakan tubuh berlebih sebagai bahan hiburan. Dalam slapstick, adegan terjatuh akan digambarkan secara hiperbolis supaya memancing tawa pembacanya.

Crime

Genre yang memvisualisasikan segala hal tentang kriminalitas, termasuk di dalamnya adalah pelaku kriminal, motif, proses hukum, aparat penegak, dsb.

Note: genre crime sering disalahartikan sebagai mystery, namun kedua genre tersebut memiliki fokus yang berbeda. Crime lebih terpusat pada tindakan kriminalitas, dalam genre crime bisa saja sebuah cerita tidak memiliki penyelesaian yang solutif.

Beberapa subgenre dari crime, antara lain:

  • Courtroom drama: juga disebut legal drama adalah cerita crime yang mendramatisasi kehidupan seputar penegakan keadilan atau kriminalitas, seperti: pekerjaan seorang aparat penegak hukum (pengacara, jaksa, hakim, dsb), bagaimana sebuah mahkamah atau institusi hukum bekerja, proses dan tahapan suatu kasus di pengadilan, dsb.
  • Detective story: adalah cerita crime yang berpusat pada profesi detektif, baik profesional maupun amatir, tergabung dalam insitusi atau perseorangan, yang bertugas menyelesaikan sebuah tindakan kriminalitas, termasuk menemukan siapa pelaku, motif yang mendasari dan bagaimana si pelaku melakukan kejahatan.
  • Gangster: adalah cerita crime yang berpusat tentang sekumpulan kriminal/organisasi yang memiliki sumber dan jaringan yang luas, dan mampu melakukan tindakan kriminal atau transaksi ilegal dengan skala yang lebih besar dibanding kejahatan individu.
  • Murder mystery: adalah cerita crime yang berpusat pada satu jenis kriminalitas, yaitu pembunuhan. Korban dari pembunuhan tersebut bisa berjumlah satu maupun lebih, dan biasanya melibatkan tokoh detektif untuk mengungkap pelaku. Berbeda dengan pembunuhan berantai (serial killer), dalam kasus tersebut lebih dituntut penggambaran ketegangan dan sisi mencekam, membuat serial killer lebih pas ditulis dengan genre thriller/horror dibanding crime.

Drama

Genre yang memvisualisasikan problematika yang mungkin ditemui di kehidupan sehari-hari, bersifat lebih serius dari comedy, cenderung didramatisasi namun tetap realistis, dan bertujuan membuat pembaca hanyut dalam cerita.

Note: dramatisasi dalam drama tidak selalu dari pemilihan kata yang berlebihan atau hiperbolis, tapi juga dari pembangunan plot dan pembentukan karakter yang menyokong cerita secara keseluruhan.

Beberapa subgenre dari drama, antara lain:

  • Angst: lebih dikenal sebagai istilah internet, adalah genre yang menjelaskan sisi emosional dari tokoh utama, dan dalam penggambarannya lebih menonjolkan perasaan gelap dari tokoh tersebut, seperti: konflik batin, tekanan, depresi, kebimbangan, titik terendah, keresahan, dsb, yang ditulis secara intens dan pekat. Tujuan penulisan angst adalah untuk memancing emosi pembaca agar terbawa narasi cerita. Berbeda dengan tragedy, angst tidak selalu menjelaskan bagaimana tokoh tersebut bisa berada di situasi menyedihkan, angst lebih terpusat pada faktor internal yang ada pada diri tokoh tersebut. Alternatif menyusun kalimat untuk angst tidak harus dengan kata-kata yang bernuansa kesedihan, namun dengan mendeskripsikan bagaimana perasaan tokoh tersebut dapat tergambar secara realistis.
    • Hurt/comfort: adalah alternatif penyelesaian dari genre angst, dimana tokoh utama mendapat ketenangan setelah menghadapi pergolakan batin yang digambar di sepanjang cerita. Ketenangan tersebut dapat berupa bantuan dari tokoh lain, mendapat pelajaran moral, mendapat solusi permasalahan dengan akhir bahagia, dsb.
  • Melodrama: adalah genre drama yang berpusat pada pergolakan emosi yang intens. Tokoh-tokohnya sering dibangun secara sederhana namun menghadapi berbagai penderitaan di sepanjang cerita. Bertujuan untuk membuat pembaca hanyut dan menarik simpati terhadap tokoh utama.
  • Occupation-themed drama: adalah genre drama yang berkisah tentang kehidupan suatu profesi yang ditulis dengan didramatisasi. Occupation-themed drama yang banyak ditemui antara lain legal drama, medical drama atau sport fiction.
  • Tragedy: adalah genre dimana kesialan dan hal-hal memilukan selalu menimpa tokoh utama sepanjang cerita. Berbeda dengan sad ending, tragedy tidak terbatas keberadaannya hanya di akhir cerita.

Family

Genre yang memusatkan cerita pada hubungan antar-keluarga, menonjolkan sisi kehidupan, konflik, masalah dan persoalan dalam kehidupan berkeluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar.

  • Hampir serupa dengan family, friendship: adalah genre yang memusatkan cerita pada hubungan pertemanan dan problematika yang terjadi di antaranya.

Fantasy

Genre yang dibangun dengan latar dunia imajiner karangan penulis, berisi hal-hal yang bersifat mustahil dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Tokohnya tidak selalu manusia dan unsur-unsur yang terdapat di genre fantasy bisa merupakan bagian dari legenda atau suatu hal yang benar-benar baru.

Note: fantasy kerap disamakan dengan surrealism, namun karakteristik paling esensial dan membuatnya berbeda dari surrealism adalah konsep pembangunan/perombakan dunia dalam kurun waktu tertentu. Berbeda dengan surrealism, fantasy mempunyai sistem yang dibangun secara utuh oleh penulis yang membuat kemustahilan tersebut logis dan masuk akal berdasarkan aturan dunia yang dibangun.

Beberapa subgenre dari fantasy, antara lain:

  • Fables: adalah cerita fantasy yang menggunakan hewan, tanaman, tokoh legenda, benda mati atau alam sebagai media penyampai cerita. Tokoh-tokoh tersebut memiliki kemampuan serupa manusia yang membuat mereka mampu berpikir dan berkomunikasi. Ciri khas dari fables adalah pelajaran moral yang terdapat dalam cerita tersebut.
  • Fairy tales: adalah cerita fantasy yang melibatkan tokoh-tokoh yang berdasar dari cerita rakyat, seperti: kurcaci, naga, elf, peri, raksasa, goblin, trollmermaid, unicorn, penyihir, dsb, dan biasanya melibatkan elemen sihir. Karena kontennya yang relatif aman, fairy tales sering diidentikkan sebagai jenis literatur untuk anak-anak.
  • Legends: adalah cerita fantasy dengan tokoh utama manusia, terjadi di rentang periode sejarah manusia, menceritakan tentang hal-hal berharga bagi manusia, berdasarkan fakta tapi masih memiliki unsur imajiner. Cerita legends biasa dituturkan secara verbal dari generasi ke generasi, dan dalam prosesnya sering mengalami beberapa perubahan berdasarkan kepercayaan setempat. Oleh karena itu, cerita legends tidak bisa benar-benar dipercayai, namun juga tidak bisa benar-benar disanggah.

Folklore

Genre yang bercerita tentang bagian dari kebiasaan sebuah budaya atau kelompok tertentu, termasuk di dalamnya adalah hikayat, peribahasa dan unsur-unsur kebudayaan, seperti: rumah adat, tradisi, atau permainan khas.

Note: sama seperti legends, folklore tidak pernah diajarkan secara formal di institusi/kurikulum, melainkan disebarkan dan diwariskan secara turun-temurun umumnya melalui verbal atau demonstrasi.

Beberapa subgenre dari folklore, antara lain:

  • Myth: adalah cerita folklore yang berkisah tentang praktik budaya, kepercayaan religius, tradisi masyarakat, fenomena alam atau asal-muasal sesuatu. Kebanyakan myth mengangkat cerita dari rentang periode lampau bahkan di era yang belum tercatat sejarah. Bagi sebagian orang, myth tergolong keramat karena mengandung nilai-nilai agama dan spiritual. Karena itu pula, myth sering disebut cerita yang dilebih-lebihkan.
  • Urban legend: adalah cerita folklore modern yang biasanya berkisah tentang cerita fiktif yang berakar dari kebudayaan setempat. Urban legend umumnya diceritakan sebagai hiburan, tapi juga sering digunakan sebagai penjelasan atas peristiwa-peristiwa aneh.

Historical fiction

Genre dimana cerita tersebut terjadi di dunia nyata dengan melibatkan tokoh-tokoh nyata, mencakup detail-detail peristiwa yang pernah terjadi dan tercatat sejarah, dengan beberapa unsur fiksi dan didramatisasi. Historical fiction selalu mengangkat cerita tentang masa lalu, yang membedakannya dengan tulisan kuno adalah historical fiction mengangkat kisah yang ada di konteks sejarah dilihat dari kacamata penulis.

Beberapa subgenre dari historical fiction, antara lain:

  • Autobiography: adalah genre historical fiction yang menceritakan detail kehidupan seseorang oleh orang itu sendiri.
  • Biography: serupa dengan autobiography, adalah genre historical fiction yang menceritakan detail kehidupan seseorang yang diceritakan oleh orang lain.
  • Memoir: serupa dengan autobiography, adalah genre historical fiction yang menceritakan detail sebagian/keseluruhan kehidupan seseorang berdasarkan ingatan dan perasaannya, ketimbang mengandalkan catatan atau rekaman pada periode tersebut.

Note: autobiography, biography dan memoir cenderung bersifat lebih subyektif dibanding genre lain, maka ketiganya lebih sering digunakan untuk menulis karya nonfiksi. Dalam perkembangannya, ketiga genre tersebut tetap bisa dipakai untuk menulis fiksi.

Horror

Genre yang bertujuan untuk menakuti pembaca melalui ketegangan, kekagetan, kekerasan maupun fenomena gaib. Cerita horror memiliki atmosfir seram, terkadang menjijikkan dan membangkitkan suasana mencekam dan tidak nyaman bagi pembaca.

Note: sebagian besar cerita horror berkisah tentang hal-hal gaib dan fenomena supernatural, namun tidak terbatas hanya menceritakan tentang subyek tersebut. Berbeda dengan thriller, horror bertujuan untuk memancing ketakutan dan menciptakan rasa teror. Tidak ada unsur excitement yang digambarkan di horror.

Beberapa subgenre dari horror, antara lain:

  • Ghost story: adalah genre horror yang menceritakan arwah yang sudah mati yang mengganggu dimensi manusia. Subyek hantu sendiri lebih tepat digolongkan ke subgenre supernatural, namun fokus dalam ghost story dalam genre horror adalah penggambaran menyeramkan dari gangguan yang mereka timbulkan.
  • Alien/jiangshi/monster/mutant/vampire/werewolf/zombie/unknown creatures fiction: adalah genre horror yang menceritakan serangan dari makhluk tersebut. Dalam perkembangannya, cerita-cerita tersebut bisa berada di batas genre lain, seperti: subyek alien dan mutant dapat digolongkan ke genre science fiction, atau subyek vampire dan werewolf digolongkan ke genre fantasy. Fokus dalam genre horror ada pada penggambaran menyeramkan dari serangan makhluk-makhluk tersebut.
  • Occult story: adalah genre horror yang menceritakan tentang musuh dari kebaikan seperti yang diajarkan dalam filosofi tertentu. Termasuk di dalamnya adalah cerita tentang setan, iblis, penyihir jahat, Antichrist, dsb. Tujuan dari occult story untuk mempercayai eksistensi Tuhan dan kuasa-Nya.
  • Slasher: adalah genre horror yang melibatkan seorang psikopat atau pembunuh berantai sebagai tokoh antagonis. Cerita dengan topik pembunuh berantai bisa berada di batas genre crime, horror dan thriller. Akan cenderung ke crime jika dalam penggambarannya lebih terfokus pada sisi kriminalitas yang diperbuat. Akan cenderung ke thriller jika lebih menjelaskan dari sisi pelaku dan bagaimana dia mendapat kesenangan dari perbuatan tersebut. Akan cenderung ke horror jika fokus pada sisi mencekam dan ketakutan yang dirasakan korban.
  • Survival horror: adalah genre horror yang menggambarkan ketegangan tokoh utama berjuang menghadapi situasi yang mengancam hidup. Dalam prosesnya, diceritakan pula bagaimana tokoh harus bertahan dan solusi yang dia/mereka ambil untuk menanggulangi ancaman tersebut.

Mystery

Genre cerita yang berisi teka-teki, puzzle dan permasalahan yang menuntut untuk diselesaikan. Tokoh utama adalah seorang penyelidik/detektif/pemecah teka-teki yang akan mengumpulkan detail dan petunjuk yang disebar di sepanjang cerita sebagai dasar pemecahan masalah. Berbeda dengan crime, mystery mengizinkan permasalahan dan solusi tidak selalu logis namun relatif ke sisi supernaturalDetective story (subgenre crime) akan selalu berbagi genre dengan mystery, namun mystery tidak selalu tentang detektif.

Note: di awal cerita, tokoh utama maupun pembaca cenderung tidak menyadari elemen-elemen penting yang dibutuhkan untuk membuat kesimpulan, maka cerita mystery umumnya ditulis panjang untuk menjelaskan proses investigasi dan pengumpulan petunjuk secara lebih detail.

Beberapa subgenre dari mystery, antara lain:

  • Riddle: adalah cerita mystery pendek yang banyak beredar di internet, umumnya berkonstentrasi pada teka-teki yang terdapat di dalamnya. Ciri khas dari riddle adalah pertanyaan yang ditulis dengan permainan kata supaya fakta-fakta penting cerita tersebut tersembunyi. Pembaca dituntut untuk membangun pertanyaan dan mencari jawaban melalui narasi yang disediakan.

Philosophical

Genre yang sebagian isinya membuat pembaca mempertanyakan tentang hal-hal filosofis, seperti peranan masyarakat, tujuan dalam berkehidupan, etika, moral, peranan seni dan pengaruhnya terhadap individu, peran pengalaman dalam perkembangan pengetahuan, dsb. Genre philosophical sering bertujuan untuk mengeksplorasi dan menjelaskan sisi gelap dari kehidupan manusia.

Beberapa subgenre dari philosophical, antara lain:

  • Supernatural fiction: adalah genre philosophical yang menceritakan tentang fenomena-fenomena yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah atau hukum alam, seperti: teori ketuhanan, entitas tak kasat mata, reinkarnasi, kehidupan pasca kematian, telepati, ramalan, mukzizat, dsb. Berbeda dengan horror, supernatural fiction berpusat pada elemen tersebut, bukan keseraman yang mereka timbulkan.

Political

Genre yang menceritakan tentang seluk-beluk perpolitikan, termasuk di dalamnya adalah praktik politik, teori, sistem, dsb, yang ditulis secara naratif dan cenderung bersifat persuasif. Cerita political sering mengandung satir dan sindiran sebagai kritik untuk sebuah tatanan pemerintahan, terinspirasi dari peristiwa yang benar-benar terjadi maupun sepenuhnya fiktif.

Note: dalam proses penulisannya, penulis dituntut untuk memahami situasi politik yang terjadi supaya dia bisa menyampaikan kritik secara akurat dan menggugah kesadaran pembaca.

Beberapa subgenre dari political, antara lain:

  • Dystopian fiction: adalah genre political dimana masyarakatnya hidup dalam sebuah tatanan pemerintahan yang kacau sebagai premis utama yang diangkat dalam cerita. Sebagian cerita dystopia menjelaskan setidaknya satu alasan mengapa tatanan masyarakat tersebut menjadi seperti itu sebagai analogi atas permasalahan serupa yang terjadi di dunia nyata. Cerita dystopia sering digunakan sebagai media untuk menyampaikan perspektif baru terhadap permasalahan sosial dan praktik politik keliru yang disepelekan dan dianggap lumrah.
    • Apocalyptic fiction: adalah genre cerita yang menggambarkan kehancuran semesta setelah mengalami fenomena katastropik, seperti bencana alam, ledakan nuklir, penyebaran virus berbahaya, dsb. Kebanyakan (namun tidak selalu) cerita dystopia mengambil latar dunia setelah apocalypse dengan tokoh utama adalah masyarakat yang tersisa.
  • Utopian fiction: berkebalikan dari dystopian fiction, adalah genre political dimana masyarakatnya hidup dalam sebuah tatanan pemerintahan yang ideal sebagai premis utama yang diangkat dalam cerita. Kebanyakan utopia digunakan sebagai satir dan sindiran karena dalam praktiknya, tatanan pemerintahan yang ideal tidak pernah ada.

Psychological

Genre yang menitikberatkan karakterisasi internal melalui pikiran, perasaan, emosi maupun motif, sebagai akibat dari atau sebagai respons terhadap sebuah kejadian eksternal. Pembangunan dan perkembangan karakter menjadi hal yang dominan dalam genre psychological karena penulis dituntut untuk bisa menyelami kondisi psikologis dari tokoh tersebut.

Beberapa genre yang memiliki relasi dengan psychological, antara lain:

  • Paranoid fiction: adalah genre sebuah cerita dimana tokoh utamanya tidak mempercayai realitas di sekelilingnya dan membuat ilusi bahwa selalu ada lebih dan selalu ada yang disembunyikan dari apa yang dia lihat dan ketahui. Ketidakpercayaan tersebut membuat tokoh selalu mempertanyakan apa pun, membuatnya merasa takut, bahkan sampai menggerogoti kewarasannya.

Romance

Genre yang menempatkan fokus utamanya pada hubungan percintaan antara dua orang atau lebih, dan selalu menjamin sebuah akhir yang optimis, memuaskan atau membahagiakan. Akhir membahagiakan yang dimaksud tidak selalu kedua tokoh utama menikah dan hidup bahagia selamanya, tapi sebuah harapan dan optimisme yang meyakinkan pembaca bahwa kedua tokoh tersebut mempunyai masa depan yang baik untuk hubungan romansa mereka.

Beberapa subgenre dari romance, antara lain:

  • Fluff: lebih dikenal sebagai istilah internet, adalah bagian dari romance dengan cerita yang cenderung ringan dan tidak melibatkan permasalahan pelik. Biasanya ditulis untuk cerita pendek dengan sasaran umur anak-anak remaja.

Sastra wangi

Sebutan yang diberikan untuk sastra Indonesia karya penulis perempuan yang mengangkat isu-isu kontroversial seputar pandangan politik, agama dan seksualitas. Sastra wangi menjadi sarana para penulisnya untuk menyampaikan ideologi dan cara pandang feminis. Tokoh-tokoh perempuan dalam sastra wangi digambarkan memiliki keberanian untuk menyuarakan hak dan otoritas tubuh keperempuanannya, dan perlawanan terhadap dominasi maskulin. Dasar ideologi yang paling kuat dalam sastra wangi adalah feminisme yang menolak cara pandang patriakis. Pendobrakan konsep hubungan pranikah dan perselingkuhan juga menjadi topik yang sering dibahas dalam sastra wangi.

Satire

Genre yang mengupas kebiasaan buruk, kejahatan, kebodohan, dan hal-hal demikian yang ada pada peradaban manusia dengan tujuan untuk membuat perubahan. Tulisan satire banyak berisi ironi, sindiran, ejekan bahkan humor kering untuk menertawai hal-hal yang sebenarnya tidak lucu namun pantas dikritik. Satire banyak menggunakan analogi dan perbandingan untuk menggambarkan realitas yang diangkat.

Note: berbeda dengan sarcasm, satire menggunakan sindiran bukan untuk merendahkan nilai subyek, namun sebagai media untuk membuat perubahan.

Science fiction

Genre yang berpusat pada konsep imajiner, namun memiliki dasar teori sains yang kuat sebagai landasan pembangunan plot dan penjelasan atas hal-hal yang ditulis dalam cerita. Science fiction adalah fiksi rasional tentang alternatif/kemungkinan yang bisa terjadi di dunia, walau tidak dituntut untuk selalu memberi penjelasan mendetail terhadap sains atau teknologi yang diangkat.

Note: berbeda dengan fantasy, dalam science fiction elemen-elemen imajinernya masih bisa dijelaskan secara ilmiah, walaupun elemen tersebut sepenuhnya khayalan dan tidak memiliki pembuktian ilmiah.

Beberapa subgenre dari science fiction, antara lain:

  • Hard science fiction: adalah genre science fiction dimana elemen ilmiah dalam ceritanya diberi porsi penjelasan mendetail, berdasarkan riset dan bukti ilmiah, dan dapat dikategorikan sebagai fiksi yang bisa dipercaya karena dibekali pengetahuan sains yang valid.
  • Soft science fiction: memiliki dua definisi berbeda; adalah genre science fiction dimana elemen ilmiahnya ditulis dengan porsi yang sedikit dan cenderung tidak akurat (berkebalikan dari hard science fiction), atau genre science fiction yang lebih condong membahas ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi, budaya, dsb, ketimbang membahas sains eksak seperti mekanika, astronomi, relativitas, dsb.
  • Space opera: adalah genre science fiction yang khusus berpusat pada hal-hal ruang angkasa, seperti pertarungan kosmik, perjalanan antarbintang, kehidupan astronaut, dsb.

Slice of life

Genre yang menuliskan sepenggal pengalaman sehari-hari tokoh utamanya secara realistis, tidak memiliki perkembangan plot atau konflik yang berarti, digambarkan dalam bentuk narasi dan umumnya memiliki akhir cerita yang terbuka.

Soliloquy

Diadaptasi dari istilah teater, adalah teknik penulisan dimana si penulis berbicara dengan dirinya sendiri terkait pemikiran dan perasaannya, namun secara tidak langsung membagikan narasi tersebut kepada pembaca. Kehadiran tokoh lain/pembaca sepenuhnya diabaikan dan tidak diberi ruang untuk berdialog.

Notesoliloquy sering disamakan dengan monologue, keduanya sama-sama menuntut tokoh utama (atau penulisnya) untuk berbicara seorang diri. Yang membedakan adalah bagaimana pandangan tokoh tersebut (atau penulis) terhadap keberadaan individu lain di narasinya. Monologue menganggap pendengar sebagai bagian penting narasinya, sementara soliloquy sepenuhnya mengabaikan eksistensi tokoh lain selain dirinya.

Surrealism

Genre yang bertujuan untuk menyelesaikan kontradiksi antara dunia nyata dan dimensi mimpi dengan memasukan unsur absurditas dimensi mimpi dalam dunia nyata, antara lain: kemustahilan, logika non-sequitur (logika yang tidak runut antara sebab dan akibatnya), penyejajaran dua hal yang bertolak belakang, omong kosong dan ketidakmasukakalan.

Note: surrealism kerap bersinggungan dengan batas fantasy dan supernatural karena ketiga genre tersebut sama-sama melawan hukum alam dan menggambarkan hal-hal di luar nalar sebagai fondasi pembangunan cerita. Perbedaan paling kontras dengan fantasy, surrealism tidak memiliki tatanan sistem yang mandiri yang membuatnya tidak memiliki kelogisan seperti yang dimiliki fantasy.

  • Breaking the fourth wall: adalah bagian dari surrealism dimana batas antara dunia fiksi dengan nyata menjadi kabur. Dunia fiksi diibaratkan sebagai kotak segi empat dimana pembaca/tokoh-tokoh nyata bisa menyadari eksistensi dunia tersebut, sementara tokoh-tokoh fiksi tidak menyadari keberadaan dunia nyata. Breaking the fourth wall membuat elemen-elemen fiksi mampu menembus ‘dinding keempat’ pembatas dunia nyata dengan fiksi, beberapa yang paling umum digunakan adalah dengan menyadari bahwa mereka adalah tokoh rekaan atau mengajak pembaca secara langsung berpartisipasi dalam cerita.

Thriller

Genre yang membuat pembaca merasakan ketegangan, ketakutan, kegelisahan, kekagetan, antisipasi atau excitement melalui narasi yang disampaikan secara intens. Salah satu tujuan utama dari thriller adalah untuk membuat pembaca selalu waspada terhadap apa yang terjadi selanjutnya. Hal-hal yang bersifat penting biasanya disembunyikan untuk menjadi plot twist saat cerita berada di klimaks. Red herring juga banyak ditemukan dalam penulisan thriller, menuntun tokoh protagonis dan pembaca menarik kesimpulan yang keliru serta menambah ketegangan. Sebagian thriller mempunyai akhir yang menggantung dengan nasib protagonis yang tidak dijelaskan.

Note: berbeda dengan horror, tokoh utama dalam thriller umumnya adalah penjahat agar lebih menekankan sisi excitement. Thriller tidak selalu tentang teror, tapi juga harapan untuk protagonisnya yang digambarkan secara implisit agar pembaca turut mengantisipasi kelanjutan cerita.

Urban fiction

Dikenal juga dengan sebutan street lit atau street fiction, adalah genre yang mengambil latar lanskap perkotaan, demografi dan problematikanya. Kebanyakan urban fiction ditulis berdasarkan pengalaman pribadi si penulis, berisi makian, kekerasan dan seksualitas yang ditulis eksplisit, lebih terfokus pada sisi gelap kehidupan pinggiran ketimbang sisi gemerlap dan hedonisme metropolitan.

Western

Genre yang mengambil latar American Old West dengan rentang periode pertengahan abad ke-19 sampai awal abad kedua puluh, seringnya berkisah tentang kehidupan seorang cowboy nomaden yang memiliki kemampuan menembak, gemar memakai aksesori ciri khasnya dan mengendarai kuda untuk bepergian. Tokoh-tokoh lain meliputi suku asli Amerika, bandit, pemburu bayaran, buronan dan penduduk setempat. Ciri khas dari western adalah alam liar dan padang luas yang gersang dan dikelilingi perbukitan tandus sebagai latar tempat. Definisi yang lebih spesifik dari western menjelaskan independensi tokoh utama serta kekontrasan antara peradaban dan sisi liar dalam rentang periode tersebut.

Note: western sering bersinggungan dengan historical fiction, namun western mengizinkan penulis untuk memakai tokoh dan peristiwa yang seluruhnya fiksi, tidak seperti historical fiction.

***

Dalam prosesnya, sebuah cerita biasanya memiliki dua genre dominan dan beberapa genre lain dengan porsi yang lebih kecil. Beberapa genre di atas pun lebih sering tidak berdiri sendiri dan membutuhkan genre lain untuk membangun kesatuan cerita yang padu, seperti: action dengan adventure dan thriller, gore dengan horror dan thriller, epic dengan adventure, dan fantasy, romance dengan drama, detective story pasti dengan mystery, mystery dengan horror dan supernatural, urban fiction dengan drama, dsb.

Silakan menyadur dengan menyertakan kredit.

Advertisements

2 thoughts on “Genres

    1. halo, kutukamus!

      iya, untuk kategori-kategori dalam folder of secrets, ws memang sengaja tidak memasukan genre supaya lebih simple dan rapi karena satu cerita bisa mengandung banyak genre. tapi ini juga dimaksudkan supaya pembaca bisa ikut terlibat menebak genre apa saja yang terkandung dalam cerita tersebut dengan referensi dari page ini. terima kasih ya, tanggapannya, kutukamus! :))

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s