Remah Kue di Tepi Bibir

8053402227_411987b0d4

Remah Kue di Tepi Bibir

by Niswahikmah

Makanan favoritku: kukis cokelat-kelapa buatan Ibu. Tidak pernah berubah.

.

Ibu suka sekali memasak. Setiap aku pulang sekolah, selalu kulihat senyum wajahnya bersama apron berwarna pink dengan motif beruang. Beruang itu tersenyum, meminta kupeluk—yang berarti aku suka sekali memeluk ibu.

Sup-sup ibu terasa asin sedap, membuatku bisa menghabiskan tiga mangkuk nasi bersamanya. Ketika aku sakit, hanya supnya yang dapat mengobatiku dengan baik. Selain sup, kue-kue yang dimasak ibu juga begitu enak. Ia suka sekali memadukan cokelat dengan keju, kadang diberi parutan kelapa yang sedapnya tiada terkira.

Setelah ibu menyajikan makanan apa saja, ia tidak pernah lupa bertanya, “Enak, Rin?”

Dan, aku selalu mengangguk. Tak pernah ada gelengan. Karena memang tidak pernah ada kekurangan di dalam masakan ibu. Ibu sempurna dengan tangan dinginnya dalam meracik bumbu menjadi makanan. Ibu sempurna juga dalam meramu bubuk-bubuk sirup menjadi minuman manis.

Jadi, tidak mungkin aku lupa, setiap ada yang bertanya, “Makanan favoritmu apa?” jawabannya selalu sama: “Semua yang ibu masak untukku.”

Lalu, jika ada yang bertanya, “Kenapa kau sayang sekali pada ibumu?” jawabannya pasti: “Karena masakannya enak sekali.”

.

.

Kenangan itu terkuak lagi ketika aku berkunjung ke kedai kukis. Rasa tester-nya mirip sekali dengan kue buatan ibu dulu. Tapi, tentu saja aku tidak perlu heran. Pasti resep yang pembuatnya contek sama dengan resep yang dimiliki ibu.

“Beli satu kotak saja, ya,” pesanku.

Kokinya mengangguk dan memintaku menunggu sebentar. Harum kue segera saja merebak menyapa penciumanku. Tiba-tiba saja, itu membuatku rindu pelukan hangat ke apron beruang, usapan ibu di bibirku apabila remah kukis mengotori, serta pertanyaan soal makanan favoritku.

Jelas, limabelas tahun telah berlalu. Ibu sudah lupa semuanya, bahkan lupa padaku. Tidak akan mungkin baginya membuat kue sesuai resep-resep yang pernah ada lagi.

Sekarang, jika ada yang bertanya makanan favoritku, pasti kujawab, “Kukis cokelat-keju dengan remah kelapa di atasnya.” Karena itu yang paling kuingat dari seluruh masakan ibu yang enak-enak.

Lantas, kalau ada yang tanya soal cintaku pada ibu, aku tak pernah lagi punya jawaban selain kedikan bahu atau senyum usil. Pertanda aku keberatan menjawabnya—sungguh berat.

“Nona, ini kue Anda.”

Kualihkan fokus untuk menerima kotak kue, kemudian membayar.

.

.

Selanjutnya, biarlah aku duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Makan kukis sendirian, membayangkan masih ada ibu di sebelahku, mengambilkan sirup atau air supaya mulutku bersih sehabis makan.

Tentu saja hanya harapan kosong.

Karena ibu sekarang ada di televisi yang kutonton. Sejak sepuluh tahun yang lalu, pergi melupakanku dengan menitipkanku pada Bibi. Dengan janji ia akan kembali setelah kotak kukis yang kubawa telah habis isinya.

Tapi, setelah dua hari (dan bodohnya aku berusaha menghabiskan cepat-cepat kukisnya) dan kuenya habis, ia tak pernah kembali. Untuk menemuiku atau memasak lagi untukku. Masakan Bibi tidak enak, jadi aku menangis berhari-hari.

Sampai aku melihat ibu di televisi. Cantik dan berpenampilan menarik. Dan, aku tahu, ibu sudah beralih fungsi. Ia sudah lelah dengan kue, sup, dan sirupnya. Sekarang, ia lebih suka dengan gaun, sepatu hak tinggi, dan gincu.

Tentu saja ibu bosan membersihkan remah kukis di pinggir bibirku, karena jauh lebih menyenangkan membersihkan remah biskuit di sisi bibir lelaki untuk selanjutnya ia beri kecupan sekian lama.

Dan, tanpa kusadari, air mataku menetes, mengalir hingga tepi mulutku. Membersihkan kotoran di sana—tanpa bantuan tangan ibu lagi.

 

fin.

Advertisements

28 thoughts on “Remah Kue di Tepi Bibir

  1. Ibunya jadi artis ya?:( sedih bacanya. Awalnya kukira ibunya meninggal, ternyata kalau kenyataannya kaya gitu lebih sakit ya. Masih ada tapi ga mau peduli sama anaknya, sedih😢

    Oh iya, hi! Saya Zulfa dan suka mantengin ws buat nyari fiksi-fiksi yang keren. Dan ya, menurutku cerita ini keren, dari mulai bahasa sampai alurnya yang ngalir banget. Aku sih kayanya belum bisa bikin fiksi(apalagi orific) sekeren ini, dan umumnya sekeren apa yang ada di ws, makanya sering mampir buat belajar, hehe..

    Like

    1. Iyaa ibunya memilih dunia keartisan ketimbang anaknya huhu 😦
      Engga sih, aku tipikal yang ga suka nulis tentang meninggal sebetulnya. Aku ga sukaa. Sedih hehe.

      Salam kenal ya zulfa, aku juga masih pelru banyak belajar. Jadi kita belajar bersama-sama ya 🙂

      Like

  2. Hello Niswa, ngerusuh nih aku hehe

    Pas disebut ibu lupa segalanya, aku kira ibunya sakit atau hilang ingatan githu. Ternyata lebih kejam ya T_T si ibu yang kesan awalnya lembut dan idaman banget, bisa berubah sedingin itu. Mungkin ibunya punya alasan khusus? Ekonomi misal? Tapi ngelihat kehidupan si aku, jaya-jaya aja, ya hehe

    Ada bagian yang menurutku terlalu banyak koma, paragraf ke tiga dari bawah. Tapi ga terlalu ganggu, kog.

    Yep, githu aja sih ngerusuhnya. Smangat, Niswa! 🙂

    Like

    1. Kak cherryyy pulsanya lupa lagiii ya Allah:(( banyak banget urusan belakangan, syibuk parah /malahcurcol/ sorry ya kaak:(

      Dan makasih uda mampir serta memberi komentar yang membangun:) ❤

      Like

  3. Tulisan Niswa selalu rapi. Aku udah hampir klik tanda silang tadi karena aku ga akan kuat kalau ibunya meninggal. Tp lalu aku mengedikkan bahu tanda keberatan perihal cintanya pada ibu. Jadi langsung banting niat, ga jadi tutup. Pasti sesuatu. Hehe. Untunglah ga jadi almarhumah ibunya.

    Niswa banyak-banyak bagi cerita, ya. Ditunggu.

    Liked by 1 person

    1. Aamiin, aamiin bisa rapi ya :’) karena menurutku aku belum serapi itu ehehe. Makasih uda baca yaa (anyway aku bisa panggil apa sih hehe) ditunggu juga tulisan kakak 🙂

      Like

  4. Niswaa, alamak. Seriusan laah aku udah stel rasa cinta maksimal kepada ibunya Rin ini.. lima belas tahun berlalu aku kira ibunya demensia, makin nyesek kan yah..

    Trnyata ditinggal pergi ibunya..
    #koprolampeantartika

    Cerita niswa emg gak prnah mengecewakan aku, huhuhu. Terima kasih atas ceritanya 😀
    Keep writing always!

    Like

  5. Mirip komentar-komentar sebelumnya, aku mikir ibunya kena penyakit apa gitu atau malah amnesia, eh ternyata …. Aku juga gabisa baca fiksi sedih-sedih yg ada dead chara-nya, jadi udah hampir closing ini. Tapi waktu baca yang bagian ‘ibuku muncul di televisi’ langsung tetep lanjut hueheheh. Fiksi Niswa ngalir banget, gak sadar kalo tahu-tahu nyampe akhir aja. Keep writing anywayyy!

    Like

    1. Iya nih, mau bongkar-bongkar tapi HP kadang ngeselin 😂 kalau on PC seringnya kelupaan karena dikejar deadline poster atau contest … X) tunggu aku kalau selo langsung cusss!

      Liked by 1 person

  6. Waktu baca ini aku jadi inget ibu aku sendiri yang tiap masakannya itu nggak perlu ditanya lagi enak apa nggak, jelas jawabannya selalu enak pake banget x’) Nggak nyangka sih kak niswa bakal bikin ending yang begitu… :”) Pas sampe di kalimat-kalimat terakhirnya, apalagi yang paragraf kedua terakhir, entah kenapa aku pengin nangis, mungkin karena aku lagi nyetel lagu yang pas, tapi terlepas dari itu ini enak banget dibaca. Santai, tapi feel-nya dapet banget kak. Jadi pengin kukis juga ah :””) Keep writing kak, dan salam kenal! ❤

    Liked by 1 person

    1. Halo shiana, terima kasih sudah menyempatkan baca tulisan singkat ini yaa 🙂
      Ibumu kayak ibuku, hehe, sampe bikin masakan resep sendiri juga tetep aja kataku enak :’3

      Ehehe iyaa ending-nya memang sedikit tragis:’)

      Like

  7. niswaaaaaaaa jadi ibunya tuh artis bukaan? lho kasian anaknya :(( aku masa bener-bener bacanya yang “hah? parah” pas bagian si ibunya nitip anaknya di bibi, terus janji bakal balik kalo kukis sekotaknya udah abis. terus taunya nggak balik. terus tiba-tiba ibunya muncul di tv. oh! sama bagian yang kalo anaknya ditanyain masakan siapa yang paling enak sama kenapa kamu sayang banget sama ibu? waduh aku miris bangettt astaga :”( niswa ceritanya bagus. sederhana tapi nyelekit ngunu ah :”((( anw keep writing nis!

    Like

    1. Kak fiik maafkan daku ya kemaren ngerepotin kakak gitu:( jadi ngerasa bersalah aing :”

      Iyaa jadi ini ibunya berubah haluan jadi artis, jadi yaudah deh lupa ama anak. Makasih uda nyempetin baca + komen ya kak, laff! ♥

      Like

  8. Ceritanya baguus, jadi kangen sama masakan ibu 😦
    awalnya aku pikir, ibunya Rin ini udah tua terus pikun gitu, jadi lupa sama anaknya.
    Pas baca sampe bawah, ternyata lebih nyesek yaa…

    Like

  9. hello ~ aku lagi nyari2 fiksi sad yang bahasanya ngga sad dan sepertinya tulisan author masuk kategori itu hehe
    tau nggak? masa’ yaa bahuku langsung lemes gitu pas tau ternyata ibuknya lupa sama anaknya … huhuhu
    baca ini jadi inget sekaligus menyadari kalau emang ngga ada masakan seenak buatan ibu. :”)

    suka suka suka. sederhana tapi ngena. keep writing authornim ^^ (aku ngga tau mau manggil apa hehe)

    Like

    1. Halo anee, kayanya ini bukan first time kamu baca ceritaku yaa. Panggil saja aku Niswa, sesuai penname di atas:) salam kenal yaah

      Yes right, emang ngga ada masakan seenak buatan ibu :’) btw makasih uda baca dan menyempatkan komen ya~

      Like

  10. hai niswa 🙂
    waktu aku baca ini aku jadi inget ‘rumah’ hahaha. kasian sama ‘aku’ yang ditinggalin ibunya. pertama baca aku mikir mungkin si ibu ini punya penyakit atau ibunya udah meninggal gitu. jadi aku kaget seriusan waktu tau kalau si ibu ternyata melupakan anaknya demi hidup keartisannya.
    aku juga paling favorit sama kalimat ini,
    Tentu saja ibu bosan membersihkan remah kukis di pinggir bibirku, karena jauh lebih menyenangkan membersihkan remah biskuit di sisi bibir lelaki untuk selanjutnya ia beri kecupan sekian lama.

    aku suka aku suka <3. manusia memang bisa berubah yaa :)) keep writing yaa, niswah 🙂

    Liked by 1 person

    1. Halo juga, aku bisa panggil apa ya? Ehe 😀 iyaa sedih banget kan ditinggal ibu jadi artis dan berakhir terlupakan :’) iyaa terima kasih yaa sudah baca dan ninggal komentar :))

      Like

  11. Nis … ya ampun ini gak bisa lebih sedih lagi ya 😦 kalo ibunya mati malah aku agak mending … tapi yang ini kok shsjakka sekali. Aku kalo jadi anaknya ya nangis, kalo nggak nuntut (!?) 😦 sedih ya ampun aku baper Nis 😦

    And, as always ya (kamu juga pasti bosen) bahasamu rapi bangeeet, tahu-tahu udah ending aja. Cantik banget deh, Nis❤❤ keep writing yaaa!

    Liked by 1 person

  12. loh jadi ibunya jadi artis?? ya ampun, titan ngga ngira ceritanya bakal nyesek kaya gini :”

    terus ini,
    “Dan, tanpa kusadari, air mataku menetes, mengalir hingga tepi mulutku. Membersihkan kotoran di sana—tanpa bantuan tangan ibu lagi.” — walah, langsung jleb rasanya :”)) kudos ya, niswa! ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s